PostsNow
cover image for this post
21 September 2018

Tulpita: Buku Dongeng Karya Sendiri

Sebuah mimpi seorang kutu buku yang terwujud, saya mencetak sebuah buku dongeng. Sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai karya sendiri. Buku dongeng ini merupakan hasil karya dua orang, saya sebagai illustratornya.

Pada tanggal 1 September 2018, saya mendapat sebuah chat, begini isinya:

Bukunya sudah jadiii. Minta alamat yaa

Chat ini dikirim oleh Stefanny, sang penulis dari Tulpita. Rasanya sungguh tidak sabar untuk segera melihat hasil cetak karya kami selama berbulan-bulan ini. Karena lokasi kami sedang tidak terlalu jauh, beberapa buku langsung dikirim ke kos saya melalui jasa ojek online. Tidak lama kemudian, datanglah sepaket buku yang juga disertai boneka Tulpita untuk diwarnai.

Buku Tulpita

Temukan Tulpita di Instagram: @tulpita123

Jadi bagaimanakah awalnya kenapa saya bisa sampai menghasilkan buku dongeng ini?

Pertemuan Penulis dan Ilustrator

Pada awalnya saya dan Stefanny sama-sama tidak mengenal satu sama lain. Stefanny sendiri tidak sedang berdomisili di Indonesia sementara saya masih menjadi anak rantau yang kekurangan gizi di Jakarta.

Semua diawali oleh pertanyaan dari Cicil, teman saya yang juga merupakan saudara dari Stefanny:

nanyaa dooonk, bisa bantuin bikin ilustrasi gaa? kayak buat buku cerita anak-anak

Hanya mengira ini sebuah pekerjaan kecil untuk sebuah pamflet atau sejenisnya, saya mengiyakan untuk membantu. Gambar-gambar sedikit okelah, sekalian untuk latihan. Esok harinya dibuatlah sebuah group chat yang berisikan saya, Cicil, dan Stefanny.

Stefanny memang sedang mencari ilustrator untuk bukunya. Kebetulan di waktu yang sama, saya sedang rajin belajar menggambar dengan cat air dan sering juga saya post gambar-gambar tersebut di sosial media. Cicil yang sering melihat hasil upload saya kemudian merekomendasikan saya kepada Stefanny.

Dalam pembicaraan itu mendadak muncul pertanyaan, "Ini nanti sistem fee gambarnya gimana ya? Jangan sukarela soalnya ini komersial".

Modyar aku.

Padahal awalnya saya hanya berpikir ini untuk bantu-bantu saja, tidak perlu bayar-bayar karena sekalian latihan. Dari situ saya baru menyadari bahwa ini adalah hal yang serius, bukan hal sepele yang akan selesai dalam waktu singkat saja.

Dari sini pula, saya menyadari bahwa ini adalah sebuah kesempatan besar.

Perancangan Karakter

Setelah sepakat, kami berkomunikasi melalui chat dan email. Stefanny mengirimkan draft ceritanya agar saya dapat memahami dunia yang ia tulis. Bersamaan dengan saya yang masih mulai membaca, ia menjelaskan bagaimana sosok Tulpita ini di bayangannya. Dari penjelasannya, saya pun mencoba mencoret-coret sosok Tulpita, sang peri tidak bersayap ini.

Tulpita Draft

Sketsa perancangan karakter Tulpita

Pendek, pipi menggemaskan yang minta digigit serta rambut yang khas.

Minim sekali revisi dari Stefanny karena menurutnya sudah mirip dengan bayangannya. Versi yang dipakai adalah gambar yang di kanan, hanya saja di bukunya terlihat lebih kecil karena setting waktunya adalah belum terlalu lama sejak Tulpita lahir sehingga kira-kira ia masih belum setinggi ini.

Lain halnya dengan ayah dari Tulpita, banyak sekali revisinya karena sosok ayah yang kami bayangkan berbeda. Brief dari Stefanny adalah supaya tokoh ini terlihat sangat kebapakan.

Edelio Draft

Sketsa perancangan karakter ayah Tulpita

Gambar pertama paling kiri, karena saya beranggapan bahwa sang ayah adalah seorang bapak-bapak, maka ia terlihat agak gendut. (Maafkan stereotyping saya wahai para bapak-bapak). Namun Stefanny mengatakan bahwa ia terlihat terlalu garang dan meminta untuk dibuat lebih langsing.

Gambar kedua yang ada di tengah, sudah saya buat lebih langsing. Hanya saja karena saya lagi-lagi berpikir bahwa ini adalah bapak-bapak, maka saya menambahkan sedikit jenggot. Sekali lagi Stefanny meminta untuk dibuat polos saja mukanya. Seperti Dekisugi dari Doraemon, katanya. Saatnya cukur ganteng, yah.

Gambar ketiga, saya hanya merevisi mukanya karena sudah merasa cocok dengan badannya. Sesuai permintaan, saya menggambarnya seperti Dekisugi dan melepas semua stereotyping bapak-bapak. Dalam cerita ini, ia baru saja menikah. Masih dapat diterima kalau mukanya masih polos dan belum terlalu bapak-bapak. Versi inilah yang diterima oleh Stefanny.

Sedikit cerita lain, saya sempat bingung tentang bagaimana baju dari para peri-peri ini. Mengingat bahwa mereka hanyalah rakyat biasa di negeri ini, sebaiknya bajunya tidak terlalu mewah dan cukup nyaman untuk kehidupan sehari-hari. Setelah mempertimbangkan banyak hal (termasuk kemungkinan bahwa mereka hanya memakai kain putih polos saja), saya memutuskan untuk meniru Link dari The Legend of Zelda: The Wind Waker. Hal ini tercermin dari rancangan baju sang ayah di atas.

Pengerjaan Gambar

Dalam proses pengerjaannya, rencana awal saya adalah dengan menggunakan cara tradisional: cat air. Tetapi mengingat bahwa saya sendiri masih pemula dalam cat air, saya meragukan kemampuan saya dalam menjaga konsistensi warna dan palet di banyak gambar. Selain itu saya juga berpikir akan sangat susah ketika ada revisi. Semua harus digambar ulang. Dari pertimbangan ini, maka saya memulai untuk belajar menggambar secara digital.

Dimulai dari googling beberapa tutorial, saya menemukan beberapa panduan. Salah satunya adalah tutorial dari Tracy Bishop, di situ juga terdapat link untuk download preset brush cat air.

Sangat susah membiasakan diri menggambar secara digital. Saya mencoba menggambar adegan pertama sebagai bahan coba-coba, dan hasilnya adalah gambar yang sangat kaku dengan warna yang pucat.

Scene01-Attempt01

Percobaan pertama digital art

Tidak puas, setelah mengelus dada berpuluh-puluh kali, saya mencoba kembali dengan lebih berani untuk menarik garis dan dalam pemilihan warna:

Scene01-Attempt2

Setelah revisi dan nekat pilih warna

Banyak konflik dalam pikiran saya ketika mewarnai ini dengan nekat menggunakan warna-warna ekstra cerah, misalnya: Kenapa langitnya pink? Karena mereka sedang jatuh cinta. Ini negeri peri, siapa tahu komposisi atmosfernya lebih magical.

Merasa cukup puas dengan hasil percobaan ini, saya melanjutkan menggambar sisanya dengan cara yang serupa.

Pengerjaan gambar yang dimulai dari perancangan tadi hingga akhirnya terselesaikan semua memakan waktu selama 6 bulan, mulai dari Desember 2017 hingga Mei 2018.

Fase Akhir

Tulpita telah selesai dikerjakan dan dicetak. Buku ini dicetak secara independen dan tidak didistribusikan melalui toko buku. Untuk mendapatkannya, bisa dipesan langsung ke Stefanny (edit: sudah ada link untuk membeli di Tokopedia).

Apakah saya bangga?
Ya, saya bangga karena sudah bisa melakukan sebuah langkah awal dalam berkarya. Kepercayaan diri saya juga cukup meningkat, meyakinkan diri bahwa sebenarnya saya mampu.

Apakah saya puas?
Tidak terlalu, karena banyak hal yang masih saya rasa kurang dari diri saya sendiri. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kemampuan menggambar yang masih kurang. Saya mengakui bahwa saya sendiri masih perlu banyak belajar dalam hal gambar-menggambar. Baik itu dengan cara digital maupun tradisional.
  • Time management. Pembagian waktu untuk menggambar dan pekerjaan utama saya masih sangat kurang sehingga kadang gambar ini kurang mendapat prioritas waktu.
  • Manajemen Diri. Ada fase dimana saat mengerjakan ini saya sempat mengalami masalah pribadi yang membebani kondisi mental dan pikiran saya sehingga pengerjaan ini sempat mangkrak selama sebulan.

Terlepas dari segala catatan pribadi saya lainnya tentang hal-hal yang bisa untuk lebih ditingkatkan, saya merasa cukup bangga dengan pencapaian ini. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa ini hanyalah pencapaian kecil, karena bagi mereka hal ini bisa dianggap besar ketika sudah diterbitkan dan tersedia di toko-toko buku.

Saya paham hal itu karena sempat ada pikiran serupa yang menyelinap di kepala saya.

Tapi semua hal besar diawali dari hal-hal kecil bukan? :)